CINTA RASUL
Sudah sebulan ini Muin bin Muan tidak kelihatan batang hidungnya. Biasanya setiap maghrib dan isya dia tidak pernah absen untuk Jemaah di sini, Masjid Al Hikmah. Selepas pulang kerja Muin selalu bergegas ke masjid ini. Tidak ingin ketinggalan sholat Jemaah. Namanya sudah sangat dikenal sebagai aktivis masjid. Sebagai gharim disini,aku kenal betul betapa khusuknya ia ketika ibadah. Apalagi kalau sudah masuk bulan suci ramadhan. Waktunya lebih banyak ia habiskan di masjid ini. Terkadang hingga sholat subuh usai. Suaranya yang khas,sedikit serak, membuat orang yang mendengarkan bacaan qurannya pasti akan teringat kalau itu dia,walaupun hanya dari pengeras suara. Ia rajin mengikuti acara pengajian di masjid ini. Tujuannya hanya satu. Mencari dan menggali ilmu agama sedalam dalamnya. Kalau soal akidah,dia tidak tanggung tanggung. Barangsiapa yang berani menghina islam atau Rasullullah SAW, tangannya akan spontan melayang ke wajah si penghina. Jangankan menghina, tak sengaja saja bisa membuat wajahnya merah padam.
Begitulah Muin bin Muan, Ahli ibadah,haus ilmu,tegas dan tanpa kompromi.
Tapi kemana dia selama seminggu ini?
Kemarin malam,aku kerumahnya. Mencoba mencari kabar tentang sahabat karibku ini. Rumahnya lumayan jauh dari masjid. Hampir 1 kilo. Jarak tempuh dia ke masjid bisa mengukur seberapa cintanya dia dalam memakmurkan masjid. Rumahnya sederhana. Tidak berpagar,hanya ada parit yang digali sendiri sebagai pembuangan air didepan rumahnya. Pintu rumahnya sudah keropos dimakan rayap. Engselnya sangat berkarat dan kelihatan rapuh. Kalau saja ada anak kecil yang menendang pintu ini pasti terlepas.
“Assalamualaikum, permisi…” Kucoba mengetuk pintu pelan-pelan. Takut pintunya roboh.
Semenit kutunggu. Tidak ada jawaban.
“Assalamualaikum, maaf permisi…” kuulangi sekali lagi. Mudah2an ada yang menyahut.
Kali ini kutunggu agak lama. Tapi tetap tidak ada jawaban. Apa karena terlalu pelan ku ketuk pintunya?. Kali ini aku berniat mengetuk agak keras, semoga pintunya tidak roboh. Saat akan mengetuk pintu, ada suara anak kecil memanggil-manggil. Membatalkan niatku.
Kupalingkan kepalaku kebelakang. Terlihat seorang anak kecil berwajah kusam,hitam legam. Pakaiannya kumal dan lusuh. Diketiaknya ada sebuah bola yang dikepit. Dengan wajah lugu dan sedikit telihat bodoh, ia datang menghampiriku.
“ bang Komar mau ngapain?” tanyanya
“ mau nyari bg Muin, bg muinnya didalam gak?”
“mana saya tau,sayakan bukan anaknya bang.”jawabnya dengan wajah tanpa dosa,dia kemudian beranjak pergi.
Aku terdiam. Dasar anak kecil zaman sekarang gak ada sopan santunnya,pikirku. Tapi yasudahlah, namanya juga anak anak.
Kuketuk pintunya sekali lagi. Kali ini agak keras dan Alhamdulillah pintunya masi berdiri pada tempatnya.
“Nak komar ooo Nak komaaar..” ada suara memanggilku dari aras belakang. Aku kenal suara ini.
“oh,,bu Zainab, gak jualan bu hari ini? “ dan tebakanku benar. Bu zainab tetanggaku sebelah rumah. Orangnya sangat ramah. Saking ramahnya,semua orang yang lewat didepan rumahnya ia sapa. Walaupun ia terkadang tidak tahu siapa yang disapanya.
“gak Nak,,hari ni sepi,ni mau ke tempat bu Rita ngambil uang jula-jula. Nak komar ada perlu apa di rumah Muin? “ jawabnya dengan nada suara yang cepat. Khas bu zainab.
“Mau tau kabarnya aja bu.”ujarku singkat
Bu Zainab sedikit mengerutkan keningnya. Sejurus kemudian ia menepuk keningnya
“Aduh duuh,,peninglah kepala Batman.”
“Lho kenapa Bu?” tanyaku heran
“lhoo,,pak Komar tidak tau ya kalao si Muin ama emaknya udah pindah seminggu yang lalu.dia di Malaysia sekarang, Jadi Ustadz dia dsana.”
“beneran bu??” aku terperanjat kaget. ada rasa senang dalam diriku. Akhirnya kesampaian juga cita-citanya jadi ustadz ,pikirku. Tapi ada rasa malu, malu karena bu zainab yang juga jauh rumahnya lebih tau kabar tentang si Muin,daripada aku kawan karibnya sejak kecil.
Setelah mengucapkan terima kasih,aku pamitan pulang ke bu zainab. Diperjalanan, aku sempat teringat beberapa keluhan kawan sebayaku yang berkepala hampir botak ini.
“Mar,bagaimana respon Ente kalau Nabi kita dihina?” keluhnya dengan suara serak saat kami sedang duduk-duduk diteras masjid.
Aku terdiam sejenak. Otakku berfikir cepat mencoba menjawab pertanyaan Muin.
“Tergantung situasi dan kondisinya In.”
“Maksud ente?” Tanya Muin Serius, wajahnya yang hitam mengisyaratkan banyak tanda Tanya.
“Begini In” aku membetulkan posisi dudukku, sedikit miring tidak bagus untuk mengeluarkan aspirasi. “kalau menurutku,,ini masih menurutku yaa,,”
“iya apa itu,,jangan banyak basa basi Mar” potong Muin,tidak sabar mendengar penjelasanku. Tapi aku maklum. Dia memang seperti itu.
“oke begini.kalau penghinaan itu ditujukan kpd diri kita pribadi: senyum aja dan bersabar, dan bersyukur karena dg hinaan tsb sebagian dosa kita terhapus.
kalau penghinaan itu ditujukan kpd Allah atau Al Qur'an atau Rasulullah, tapi masih ringan dan tidak menimbulkan banyak mudharat: kita peringatkan dengan halus lalu kita tinggalkan.” Memang agak panjang penjelasku. Sebenarnya mau kusambung lagi,tp dari wajah Muin yang kusam aku mengerti. Dia masih belum paham.
“Gimana In,,ente nangkep gak?” kataku.
“ente yang bener aja dong. Masak nabi kita di hina hina ama tu orang bule,ente gak ada marahnya. Apa ente takut ama tu bule yang gak tau diri?!” suara Muin agak keras, aku mengerti kalau dia sedang naik darah.
“Sabar In,ente jangan emosi dulu,,kebiasaan ente” aku coba meredakannya.
“Lah,,tadi kenapa ente bilang cuman bilang peringatkan dengan halus. Kalau ane ni Mar,udah ane tonjok tu bule,,gak ada ampun ama ane!” ujar Muin berapi api.
Aku tidak buru-buru merespon, aku tau betul watak Muin yang sering tak bisa menahan emosinya. Cuma ku pasang senyum dan gelengan kepala
“Muuuin Muin..ente yang tadi nanya,malah ente yang emosi” ujarku bermaksud seloroh.
Wajah Muin yang tadinya ketat kini sedikit mengendur. Kepalanya ditekuk sedikit sambil digoyang goyang . tangannya kembali memetik tasbih satupersatu. Persis seperti orang berzikir. Dan menurutku dia memang sedang berzikir.
***
Disebelah masjid ada rumah lumayan besar. Tingkat 3. Cuma rumah itu saja yang paling tinggi dan bias dikatakan mewah dibandingkan dengan rumah yang ada disekitarnya. Bahkan kubah masjid kami pun kalah menyaingi tinggi rumahnya. Lantai 1 digunakan untuk jualan barang-barang kebutuhan sehari –hari. Aku sering belanja disana. Karena kebetulan dekat dan harganya juga murah. Yang kubeli paling indomie dan . telor sebutir buat makan siang. Sebagai anak kuliahan di perguruan tinggi agama semester akhir,Cuma itu yang bisa kubeli. Maklumlah, sebagai gharim pendapatanku tidak seberapa.Itupun pengertian dari masyarakat yang kadang memberi amplop kepadaku sebagai rasa terimakasih. Tak terkecuali, si keras kepala Muin. Kawan karibku yang berbadan kekar dan gosong kena sengatan matahari. Walaupun upahnya jadi tukang pas-pasan, dia selalu menyisihkan sedikit uangnya untukku. Dan setiap kali ku tolak amplop pemberiaannya, matanya akan langsung merah dan kumis lelenya akan bergerak gerak. Persis seperti tukul arwana.
“Nak komar ooo Nak komaar..mau beli apa Nak? “ sahut bu Zainab cepat dengan Khas bicaranya yang sangat ku hapal.
“biasa bu zainab,,1 indomie kuah rasa kari ayam..”
“dan 1 butir telur kaan..” potong bu Zainab cepat seakan tau apa yang akan aku katakan. Aku mengangguk tanda setuju.
“Nak komaar ooo Nak komaar,,peninglah kepala Barbie,,saban hari makannya indomie sama telor,,nanti bias usus buntu lhoo Nak”. Ujarnya menasehati. Aku Cuma bias tersenyum.
Tak lama,pundakku terasa sakit. Ada yang menepuk pundakku rupanya. Kubalikkan badan,ternyata tak lain dan tak bukan adalah si Muin bin Muan. Pantes sakit,tangannya besar dan kapalan,khas tukang.
Tapi wajahnya agak murung, tidak seceria biasanya.
“ente kenapa In?”
“Mar,temanin ke Haji Sani yuk..” pintanya sambil berbisik bisik.
Pikiranku langsung teringat si Zubaidah. Anak Haji Sani. Orangnya cantik,lembut, alim pula.
“haaa,,,ane tau madsud ente” kataku sedikit menggoda.
“heh heh,,ente jangan salah paham dulu, ada yang mau ane tanyain ama haji sani. “ Muin langsung cepat mengoreksi.
Tanpa aba-aba lagi, Muin menarik lenganku dan menarikku keluar dari warung bu Zainab. Dan sudah bias ditebak arahnya kemana.
“Assalamualaikum…” Muin memberi salam sama yang empunya rumah. Kebetulan Haji Sani sedang menyabit rumput didepan rumah buat kambingnya. Haji sanilah yang mempercayakan Masjid Al-Himah padaku. Tak tahu apa alasannya.
“Waalaikumsalam” haji sani membetulkan kacamatanya yang lumayan tebal. Dan prediksiku,pastilah minusnya diatas 5. “eh ente In, ada perlu apa In.”
“begini pak haji,ada yang ingin saya tanyakan,” belum selesai Muin menyelesaikan apa yang ingin ditanyakannya, Haji Sani langsung mengajak kami masuk ke rumahnya. Haji Sani tau betul,kalau Muin sudah mengajukan satu pertanyaan,bakal lama menjelaskannya agar dia bias mengerti.
Disuguhi secangkir kopi hitam panas oleh Zubaidah,membuat lupa apa yang ingin ditanyakannya tadi. Dia bahkan bertanya padaku,apa yang ingin dia tanyakan. Orang sinting pikirku. Tapi akhirnya dia ingat,setelah Zubaidah beranjak kedapur.
“Oh ya,begini pak Haji,ada hal yang selama ini mengganggu pikiran saya.”
“apa itu,?” Tanya Haji Sani biasa saja, seakan pertanyaan si Muin adalah pertanyaan gampang seperti yang sudah-sudah.
“2 hari yang lalu saya pernah menanyakan ke Komar,tentang reaksi dan respon kita terhadap penghinaan kepada Nabi Saw.”
Haji sani membetulkan lagi kamacata botol sapinya. Keningnya mulai mengernyit. Sepertinya ini pertanyaan serius.
“ Komar bilang, kalau kita peringatkan dengan halus dan sopan..”
“bukan gitu In,ente sepenggal sepenggal menerima jawaban dari ane” aku langsung memotong.
Muin menolehkan kepalanya sedikit kepadaku,matanya melirikku dari atas kebawah dengan cepat. Aku tau maksudnya. Lebih baik aku diam . Muin memang bukan tipe orang yang suka dipotong pendapatnya kalau sedang berbicara dengan orang.
“saya lanjutkan pak haji, tapi kalau saya ni pak haji” lanjut muin sambil menepuk-nepuk dadanya. “ saya bakal kasi bogem mentah tu orang.”
Haji sani menangguk-angguk. Muin jadi bertambah semangat,seakan pendapatnya disetujui.
“itu membuktikan kalau saya sangat mencintai Rasul SAW,bukan malah diam dan Cuma memperingatkan.” Imbuhnya sambil matanya melirik kearahku seakan melecehkan.
Kali ini aku tidak sabar lagi. Dipikiranku terlintas kalau dia sengaja mengajakku kemari hanya untuk membuktikan bahwa pendapatku salah.
Sebelum aku mulai buka suara,Haji Sani mendehem, kemudian menyeruput kopi buatan Zainab yang masi agak panas.
“Permasalahan yang menarik,” kata Haji sani sembari matanya melirik sebentar kearahku. “ Muin, ane tau ente orangnya sangat mencintai Rasul SAW,gak ane raguin itu. Begini aja,coba ente dengarkan dan ente resapi ni beberapa ayat yang bakal ane bacain”
Haji Sani berdiri,dan berjalan menuju sebuah rak penuh kitab-kitab. Tulisannya semua bahasa Arab. Aku mulai mengerti mengapa matanya harus dibantu dengan kacakamta supertebal itu. Tak lama mencari, haji sani kembali duduk dengan Alquran ditangannya. Ia mulai membuka halaman demi halaman Kitab yang berisi Firman2 Allah ini.
“ni dengerin. Ente simak baek baek,ane bacain aja terjemahannya.” Ujarnya setelah menemukan ayat yang dia cari
“Ali Imran:104 : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Kemudian Haji sani membolak balik kembali halaman Alquran,dan setelah dapat,dia meneruskan .” An Nahl:90 : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
“sampai sini udah faham ente?” petanyaan pak Haji membuyarkan konsentrasiku.
Muin,seperti biasa, terbilang lambat kalau disuruh memahami kandungan ayat Alquran. Dia Cuma diam. Tangannya menopang dagu,dan matanya melirik atas bawah kiri kanan seolah sedang berpikir berat.
Haji Sani kemudian melanjutkan. “ jadi mungkin begini maksud si Komar, kalau penghinaan itu ditujukan kpd Allah atau Al Qur'an atau Rasulullah, tapi masih ringan dan tidak menimbulkan banyak mudharat: kita peringatkan dengan halus lalu kita tinggalkan.”
Aku terkesiap. Pernyatan pak haji sama persis seperti yang pernah aku utara ke Muin. Sepertinya dadaku kembali lapang. Tapi tidak dengan Muin, dia kembali melirikku seakan hendak menerkamku.
“kalau penghinaan itu ditujukan kpd Allah atau Al Qur'an atau Rasulullah” Haji sani melanjutkan. “ dan sudah mulai berat dan serius, dan dikhawatirkan menimbulkan mudharat ,misalnya fitnah diantara ummat islam atau keguncangan iman beberapa ummat islam, maka kita WAJIB menjawab dan memberikan penjelasan dengan cara yg baik namun tegas. Dan dalilnya udah ane sampein sebelumnya.
kalau penghinaan tsb sudah masuk kategori sangat berat dan sangat melampaui batas, apalagi sampai kepada serangan secara fisik, maka kita WAJIB mencegah kemungkaran tsb dengan cara yg lebih tegas lagi dan dengan kekuatan. Dalilnya seperti dua ayat2 diatas ,plus riwayat perintah Nabi untuk membunuh Ka'b bin Al Asyraf yg telah menghina Nabi dan istri2nya secara sangat kerterlaluan .silahkan ente baca riwayat kehidupan Nabi khususnya sesudah perang Khandaq.
jadi mendiamkan penghinaan dan meninggalkan orang yg mengolok-olok bukanlah satu2nya sikap yg harus kita lakukan. ada sikap yg harus kita ambil sesuai dengan kondisi yg dihadapi”.
Aku serius menyimak ulasan dan penjelasan dari pak Haji. Sesekali aku menangguk tanda setuju. Aku sangat sependapat dengan pak Haji. Tergantung kondisi dan situasi kita menyikapi penghinaan terhadap Rasul SAW. Tidak langsung memberi bogem mentah ke si penghina seperti pendapat Muin.
Wajah Muin memerah, Bukannya menyimak apa yang pak haji jelaskan, matanya teruz melirikku tak lepas. Ntah apa yang ada dikapalanya. Sebenarnya dia ingin ilmu atau hanya ingin membuktikan kebenaran pendapatnya. Aku jadi salah tingkah didepan pak Haji. Tak tahan dengan tatapan tajam muin,yang seolah hendak menelanku, aku mohon pamit ke pak haji. Alasanku mau makan siang.
Setelah pamitan dan memberi salam, aku melangkah keluar rumah pak Haji . Lapar yang sangat ini semakin mempercepat langkahku.
Suara klakson mobil membuyarkan lamunanku tentang terkahir kali pertemuanku dengan Muin. Rupanya aku jalan sudah hampir ketengah. Setelah aku pikir-pikir, apa mungkin alasan itu Muin tidak pamitan kepadaku . aku seakan marah pada diriku sendiri. Tapi apa yang harus kumarahkan. Apa salahku?. Aku hanya menjelaskan kepadanya tentang apa yang ia tanyakan. Bahkan dengan cara yang halus dan tidak menyinggung perasaannya. Walaupun sudah lama berteman akrab dengan Muin, terkadang ada sikapnya yang tidak kumengerti.
Ah,sudahlah. Buat apa kupikirkan.
Sampai di Masjid,aku langsung mengambil air Wudhu. Ini sudah menjadi kebiasaanku memang. Segar rasanya air wudhu ini menyentuh wajahku,lenganku,rambutku,telingaku dan kedua kakiku.
“Nak komaaar ooo nak komaar” aku kaget. Tak disini,tak disana,di tempat mengambil wudhupun ada bu Zubaidah. Kehadirannya seperti hantu saja.
“kenapa bu Zubaidah”. Tanyaku
“aduuh duuh,,peninglah kepala Barbie,,lupa saya menyampaikan pesan bg Muin.” Kata bu Zubaidah dengan cara biacaranya yang cepat dan istilahnya yang menurutku aneh.
“pesan apa bu?” tanyaku penasaran.
Bu Zubaidah merogoh koceknya yang besar dan kurasa penuh berisi uang hasil jualan. lama juga ia mengaduk-aduk koceknya,ntah apa yang dia cari. Tak lama,dia mengeluarkan sebuah amplop yang dilipat-lipat kecil dan memberikannya kepadaku.
“aduh bu Zubaidah,bukannya saya tidak mau menerima amplop dari ibuk,bukannya semalam ibuk sudah memberi saya amplop” aku langsung pasang aksi menolak.
“aduh duuuh,,peninglah kepala Robin,,ini dari si Muin,Nak komar ini bagaimana,tadi kan saya bilang mau menyampaikan pesan si Muin,naah ini dia pesannya.”
“iya yaa.” Bodohnya aku.
Tak pikir panjang lagi,langsung ku terima amplop dari bu Zubaidah dan mengucapkan terima kasih padanya. Tapi tidak langsung kubuka. Nanti setelah sholat Zuhur.
Selesai solat. Kubuka amplop dari si Muin,temanku yang terkadang Tolol ini. Ternyata isinya sebuah surat. Ku baca baik-baik dan seksama. Karena memang tulisan Si Muin sulit dibaca.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawabku dalam hati.kemudian kuteruskan.
“Sahabat ane Komar. Bentar lagi ane akan ke Malaysia. Ada sepupu ane disana mengajak ane kerja. Katanya si jadi ustads.” aku berhenti sebentar,tersenyum geli. Seorang Muin mau jadi ustadz?. Kemudian kulanjutkan “ memang si ilmu ane masi kurang,dan harus ane akui ane termasuk sulit menangkap alias telat mikir. Cuman otot aja yang ane andalin. Walau ane berusaha keras untuk belajar dan belajar, tapi ane selalu kalah ama ente. Ente sekarang udah ampir tamat di jurusan agama di IAIN. Laah ane..lulus SMA aja sukur.itupun ente yang nolongin. Cuman ibadah,ngaji ama rajin ane yang tak kalah dari ente. Sebenarnya ane sering ikut pengajian biar bias ngimbangin ente soal ilmu agama. Aaah sudahlah,.ane minta maaf kalau ada sikap dan perkataan ane yang menyinggung ente. Surat ini gak bias ane sampein ke ente langsung. Ane malu sejak pertemuan terakhir. Ane merasa kerdil banget. Aaah sudahlah.. ente jaga diri ente baek baek. Mudah2an ente bias jadi Sarjana Agama,,aamiin..
Wassalamualaikum”
Ada rasa haru setelah membaca surat Muin ini. Ingin rasanya memeluknya sebelum ia pergi. Tapi aku yakin, suatu saat kami akan berjumpa lagi. Ntah darimana keyakinan ini berasal.
Buat sahabatku Muin. Mudah2an kau bias mewujudkan impianmu. Menjadi seorang ustadz yang lebih hebat dari Aku.
AaMiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar